Anak Menangis Usai Dimarahi karena Tak Bawa Uang Mengemis, Pemkab OKU Timur Bergerak

Pendidikan, Sumsel188 Dilihat

OKU, LINTASSRIWIJAYA.COM – Sebuah video viral memperlihatkan seorang anak kecil menangis histeris usai dimarahi dan dipukul oleh ibu kandungnya karena tidak membawa pulang uang dari hasil mengemis sebagai manusia silver di Kota Baru, Martapura, Kabupaten OKU Timur.

Kejadian memilukan itu langsung mendapat respons cepat dari pemerintah setempat.

Lihat Juga:Duet Maut: Rekonstruksi Peristiwa di Jembatan Ponton Ulu Musi

Lihat Juga: Kasus Pembunuhan Berdarah: Reka Adegan Peristiwa Mengerikan di Empat Lawang

Lihat Juga: 1 Muharram, Awal Tahun Hijriyah dan Peristiwa Penting dalam Islam

Pemerintah Kabupaten OKU Timur melalui Satpol PP dan Linmas, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPA), serta Dinas Sosial langsung turun tangan menangani kasus ini, Rabu (16/7/2025).

Dalam video berdurasi 1 menit 21 detik yang beredar luas di media sosial, tampak anak tersebut menangis ketakutan saat dimarahi ibunya di teras sebuah ruko.

Momen tersebut direkam oleh seorang perempuan yang kemudian menegur si ibu karena tega memarahi anak kandungnya hanya karena tak berhasil membawa uang dari mengemis.

“Ngapo? Ibu ni idak kasian apo samo adek ini. Dari tadi ku perhatikan dari dalam mobil ibu ni marahi. Idak dapat duit dimarahi. Astagfirullahalazim bu, budak masih kecik mak ini bu,” ujar perempuan tersebut dalam video.

Plt Kepala Satpol PP dan Linmas OKU Timur, Ikra Sentana S STP, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, setelah menerima laporan dan menelusuri video yang viral, pihaknya langsung bergerak cepat mengamankan anak dan ibu kandungnya.

“Mereka memang ditemukan di wilayah Kota Baru Martapura. Ibu kandungnya ternyata yang menyuruh dan mendampingi anaknya melakukan aksi manusia silver itu,” kata Ikra.

Menurutnya, keterlibatan anak dalam aktivitas manusia silver sangat memprihatinkan karena berisiko tinggi terhadap keselamatan anak dan turut merusak citra kota.

“Anak ini bersama ibunya sudah kami serahkan ke Dinas Sosial untuk ditindaklanjuti,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial OKU Timur, Hanafi SE MM, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pendekatan persuasif terhadap ibu dan anak tersebut. Pemerintah memberikan dua pilihan: jika membutuhkan tempat tinggal dan kehidupan yang lebih layak, mereka bisa difasilitasi untuk tinggal di panti sosial. Namun, tawaran ini ditolak.

“Kami tidak memaksa. Tapi mereka kami kembalikan ke daerah asal dengan catatan tidak boleh lagi melakukan aktivitas eksploitasi anak, termasuk mengemis,” ujarnya.

Hanafi menegaskan, jika peristiwa serupa terulang, pihaknya tak akan ragu mengambil tindakan lebih tegas, termasuk menempatkan mereka langsung di panti sosial.

Ia juga menyebutkan bahwa saat ini Pemkab OKU Timur telah menjalin kerja sama dengan sejumlah panti sosial, baik di wilayah OKU Timur, Muara Enim, Palembang, hingga Lampung.

“Malam ini kami bersama Satpol PP masih terus menyisir sejumlah titik, menertibkan aktivitas pengemis, pengamen, dan manusia silver. Kegiatan ini akan terus berlanjut hingga besok,” tegas Hanafi.

Senada, Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPA) OKU Timur, Inoferwenti Intan SE MM, menyayangkan tindakan tersebut dan menilai itu sebagai bentuk eksploitasi anak.

“Anak ini seharusnya sekolah, belajar, bermain, bukan dicat silver dan dimarahi hanya karena tidak membawa uang. Ini jelas eksploitasi anak yang tak bisa dibenarkan dalam kondisi apa pun,” ujarnya dengan nada prihatin. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *