GAZA, KABAREMPATLAWANG.COM — Krisis yang melibatkan para petempur Hamas yang terjebak di jaringan terowongan bawah tanah Rafah wilayah yang kini sepenuhnya berada di bawah kendali militer Israel kian mencuat dan menimbulkan ancaman serius bagi keberlangsungan kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza.
Situasi yang telah berlangsung lebih dari tiga pekan ini mendorong para mediator internasional bekerja keras mencari jalan keluar untuk menyelamatkan perjanjian yang semakin rapuh tersebut.
Lihat Juga: PBB Ungkap Fakta Mengerikan di Tengah Krisis Kemanusiaan, 1.500 Warga Gaza Tewas Saat Cari Bantuan
Lihat Juga: Derita Rakyat Gaza Berlanjut, Enam Warga Meninggal Akibat Kelaparan dalam 24 Jam Terakhir
Menurut laporan media Israel, saat ini tengah berlangsung pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Turki untuk menemukan solusi terkait nasib para petempur yang masih terperangkap. Kanal 13 Israel melaporkan bahwa Tel Aviv mengetahui proses negosiasi tersebut dan mempertimbangkan kemungkinan membebaskan para pejuang Hamas dengan syarat mereka dipindahkan ke Turki, sebelum kemudian disebar ke sejumlah negara lain.
Seorang pejabat tinggi Israel yang dikutip kanal tersebut mengungkapkan bahwa langkah itu dapat disetujui apabila ada tekanan kuat dari Washington.
Sesuai kesepakatan gencatan senjata tahap pertama yang dicapai bulan lalu melalui mediasi internasional, seluruh wilayah Rafah kini berada di balik “garis kuning”—zona yang sepenuhnya dikendalikan oleh tentara Israel. Namun, beberapa area bawah tanah masih menyimpan jaringan terowongan aktif milik kelompok perlawanan Palestina.
Lihat Juga: Polisi Tangkap Pelaku Pembobol ATM RSUD OKI yang Menggasak Rp425 Juta
Militer Israel memperkirakan terdapat 150 hingga 200 petempur Hamas yang masih bertahan di kawasan tersebut.
Isu mengenai para petempur yang terjebak semakin ramai diperbincangkan setelah dua “insiden keamanan” yang terjadi pada 19 dan 29 bulan lalu. Dalam peristiwa tersebut, tiga tentara Israel tewas, dan sebagai balasan militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah Gaza yang menewaskan serta melukai hampir 300 warga Palestina.
Setelah insiden itu, sejumlah pejabat Israel menyatakan bahwa para petempur Hamas hanya memiliki dua pilihan: menyerah atau mati. Sikap keras ini berdampak pada tertundanya proses penyerahan jenazah beberapa tawanan Israel yang tewas dalam pertempuran.
Di sisi lain, Hamas melalui para mediator internasional menyampaikan kesediaannya untuk mengevakuasi para petempurnya dari Rafah. Namun, gerakan tersebut menegaskan bahwa “penyerahan diri tidak termasuk dalam kamus perjuangan mereka,” serta memperingatkan bahwa setiap upaya pasukan Israel untuk menyerbu lokasi para petempur akan memicu eskalasi baru.
Di tengah kebuntuan, laporan media juga menyebut adanya upaya AS untuk meredam krisis. Utusan AS, Jared Kushner, dikabarkan meminta Israel agar mengizinkan para petempur di Rafah berpindah ke wilayah Gaza yang masih berada di bawah kendali Hamas. Menurut lembaga penyiaran publik Israel, para petempur ini nantinya akan menyerahkan senjata mereka sebagai bagian dari rencana menjadikan Gaza sebagai zona bebas senjata.
Media Israel menilai Washington tidak akan membiarkan krisis ini berlarut-larut karena kegagalan dalam penanganannya dapat menggagalkan seluruh kesepakatan gencatan senjata yang tengah berjalan. Dalam beberapa jam terakhir, bahkan muncul laporan mengenai usulan baru untuk mengevakuasi para petempur ke luar Gaza secara penuh.
Lihat Juga: Profesor Amin Saikal Kritik OKI yang Dinilai Abai Krisis Gaza dan Afghanistan
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu—yang kini berstatus buronan Mahkamah Pidana Internasional—menegaskan di hadapan parlemen bahwa nasib para petempur Hamas “akan ditentukan sesuai kepentingan Israel.” Ia menambahkan bahwa pemerintahannya “tidak akan tunduk pada tekanan dari Hamas, maupun dari pihak dalam dan luar negeri.”
Krisis Rafah kini menjadi ujian serius bagi keberlangsungan gencatan senjata yang rapuh di Gaza, sekaligus mencerminkan betapa rumitnya upaya mencapai perdamaian di wilayah yang porak-poranda akibat perang panjang dan penderitaan yang belum berakhir. ***
