Panen Durian di Empat Lawang Anjlok, Cuaca Hujan Bikin Produksi Menyusut

Bisnis, Sumsel14 Dilihat

EMPAT LAWANG, KABAREMPATLAWANG.COM — Cuaca yang didominasi hujan dalam beberapa waktu terakhir berdampak besar terhadap hasil panen durian di Kabupaten Empat Lawang, Jumat (24/4/2026). Produksi buah menurun drastis karena banyak pohon tidak berbuah.

Kondisi ini menyebabkan pasokan durian di pasaran menjadi terbatas, sehingga harga jual cenderung lebih tinggi dibandingkan musim sebelumnya.

Pilihan Redaksi

Harga Kopi Turun Saat Musim Panen, Petani Empat Lawang Cemas: Dari Rp70 Ribu Kini Tinggal Rp47 Ribu per Kg

Harga Kopi Empat Lawang Masih Aman di Rp55 Ribu, Petani Tetap Optimistis Jelang Panen Raya

20 Hektare Perkebunan Sawit Siap Panen di Empat Lawang Hangus Terbakar

Meski sejumlah pedagang mulai bermunculan, jumlah durian yang tersedia masih sangat sedikit.

Dari berbagai wilayah di Empat Lawang, hanya kawasan Muara Pinang yang masih menghasilkan buah, itu pun dalam jumlah terbatas.

Sementara sentra durian lainnya seperti Tebing Tinggi, Lintang Kanan, dan Pendopo hingga kini belum menunjukkan hasil panen yang signifikan.

Padahal, daerah Empat Lawang selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil durian dengan produktivitas tinggi serta cita rasa khas. Namun, kondisi tersebut dalam beberapa tahun terakhir mulai berubah.

Hasan, salah seorang pemilik kebun durian di Muara Pinang, mengungkapkan bahwa dari puluhan pohon miliknya, hanya empat pohon yang berbuah dan itupun tidak lebat.

“Beberapa tahun terakhir memang tidak seperti dulu. Buah sedikit, bahkan sering habis dimakan tupai dan simpai,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tingginya curah hujan menjadi salah satu penyebab utama gagalnya putik durian berkembang menjadi buah.

Lihat Juga: Harga Telur dan Plastik Naik, Pedagang Kuliner di Empat Lawang Terpaksa Naikkan Harga

“Mungkin karena hujan lebat, banyak putik yang rontok atau gagal menempel hingga jadi buah,” tambahnya.

Keluhan serupa juga disampaikan petani lainnya. Musim panen durian yang biasanya menjadi penggerak ekonomi masyarakat kini tidak lagi memberikan dampak signifikan akibat minimnya hasil panen. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *