Petani di Empat Lawang Menjerit, Harga Kopi Anjlok

Peristiwa, Sumsel275 Dilihat

EMPAT LAWANG, KABAREMPATLAWANG.COM – Para petani kopi di Kabupaten Empat Lawang tengah dilanda kecemasan mendalam akibat anjloknya harga jual komoditas andalan mereka. Dalam beberapa minggu terakhir, harga kopi terus merosot tajam, memicu kekhawatiran di kalangan petani.

Jika sebelumnya harga kopi sempat menyentuh angka Rp70.000 per kilogram, kini harganya anjlok menjadi hanya Rp45.000 per kilogram.

Lihat Juga: Pemkot Pagar Alam Gandeng Pelindo Biar Kopi Lokal Mendunia, Ngopi Gak Harus ke Lampung!

Lihat Juga: Diamankan Warga dan Diseret ke Polsek Dempo Utara, Remaja Asal Lahat Kepergok Curi Kopi

Lihat Juga: Harga Kopi Merosot, Petani Pagar Alam Harap Fluktuasi Tak Terlalu Tajam

Bahkan, harga sempat menyentuh titik terendah di Rp44.000 per kilogram sebelum mengalami sedikit kenaikan ke posisi saat ini.

Penurunan harga tersebut terjadi secara bertahap dalam sebulan terakhir. Dari harga awal Rp70.000 per kilogram, turun menjadi Rp65.000, lalu Rp60.000, Rp55.000, dan terus menurun hingga saat ini.

“Hari ini memang naik sedikit, karena kemarin sempat turun ke Rp44 ribu per kilogram. Tapi tetap saja, ini masih terlalu rendah bagi kami petani,” keluh Yansah, petani kopi asal Kecamatan Ulu Musi, Minggu (27/7/2025).

Menurut Yansah, penurunan harga mulai terasa menjelang Hari Raya Idul Adha, yang bertepatan dengan libur sekolah dan masa panen raya. Lonjakan suplai kopi di pasaran diduga menjadi pemicu utama turunnya harga.

“Biasanya menjelang Idul Adha harga memang fluktuatif. Tapi kali ini jatuhnya dalam sekali. Banyak petani panen bersamaan, jadi pasokan berlimpah, mungkin itu yang bikin harga turun,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Apip, petani kopi dari Kecamatan Muara Pinang. Ia mengaku sempat menjual hasil panen awal dengan harga tinggi saat buah kopi baru mulai mengeras dan belum banyak petani yang panen.

“Saya sempat jual Rp71 ribu per kilo waktu baru mulai petik. Tapi sekarang, begitu banyak yang panen, harganya langsung nyungsep,” ungkapnya.

Dengan harga di bawah Rp50.000 per kilogram, para petani mengaku tidak memperoleh keuntungan yang layak. Padahal, biaya produksi dan tenaga kerja yang dikeluarkan cukup besar. Berdasarkan perhitungan petani, harga ideal agar tetap mendapat keuntungan berada di kisaran Rp60.000 hingga Rp65.000 per kilogram.

Menanggapi situasi ini, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Empat Lawang, Hendra Lezi, menjelaskan bahwa penurunan harga kopi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di antaranya adalah peningkatan produksi global, penurunan permintaan, serta kualitas biji kopi yang kurang optimal.

“Selain faktor global, kondisi cuaca dan tata kelola pascapanen di tingkat petani juga sangat berpengaruh terhadap harga,” jelasnya.

Ia pun menghimbau para petani agar tetap merawat tanaman kopi dan mengelola hasil panen dengan baik, khususnya dalam menjaga kadar air biji kopi agar kualitas meningkat dan harga jual bisa lebih tinggi.

“Harga kopi ini memang naik turun, tergantung kondisi global. Tapi kami dorong petani tetap jaga kualitas supaya hasilnya bisa lebih bersaing,” ujarnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *