Empat Lawang Hadirkan Motif Batik Baru Berwajah Tebing Tinggi: Durian, Kopi, dan Madu Sialang Jadi Ikon Utama

Pemerintahan, Sumsel149 Dilihat

EMPAT LAWANG, KABAREMPATLAWANG.COM — Setiap daerah di Indonesia, baik kabupaten, kota, maupun provinsi, memiliki ciri khas dalam bentuk pakaian tradisional, terutama kain batik.

Kabupaten Musi Banyuasin dikenal dengan jumputan gambo, Pagaralam dengan corak rumah baghi dan ukiran khasnya, Lubuk Linggau dengan motif durian, Prabumulih dengan penggambaran buah nanas, serta Lahat dengan motif kawe (kopi).

Lihat Juga: Audisi Pemilihan Duta Kopi Empat Lawang untuk Tahun 2023, Dispar Harapkan Menuju Panggung Internasional

Lihat Juga: TP PKK Empat Lawang Hadiri Pelatihan TP PKK Tingkat Provinsi

Sementara itu, Empat Lawang memiliki motif batik berbentuk flora dengan gambar utama tugu berwarna dominan hijau, yang didesain langsung oleh Sekda Empat Lawang, Fauzan Khoiri.

Membuat kain batik dengan motif khas daerah memerlukan perenungan khusus agar sesuai dengan karakter lokal. Seyogyanya, tanpa diberi tahu pun, asal sebuah kain batik dapat langsung ditebak. Misalnya, jika pada kain batik terdapat motif bunga raflesia, hampir dapat dipastikan kain tersebut berasal dari Bengkulu.

Terdapat banyak cara dalam melahirkan kain batik khas daerah. Pemerintah dapat meminta bantuan para pakar untuk mendesain motif, menggelar lomba desain yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, hingga membentuk tim khusus untuk melakukan studi mendalam.

Biasanya motif batik terinspirasi dari kekayaan flora dan fauna, tradisi, makanan khas, hingga prosesi adat yang masih terpelihara. Motif juga bisa mengambil unsur ukiran khas yang terdapat pada rumah adat.

Eksistensi kain batik tidak hanya sebatas hadir sebagai simbol budaya, tetapi juga harus dikembangkan menjadi unit usaha yang memiliki nilai ekonomi.

Kehadirannya diharapkan mampu melahirkan pengusaha-pengusaha lokal. Batik dapat menjadi berbagai bentuk suvenir, oleh-oleh istimewa, hingga menjadi seragam organisasi dan lembaga pendidikan, sehingga tidak lagi bergantung pada batik dari luar daerah.

Noperman Subhi, pencipta kain batik Paiker (telah terdaftar di HAKI) dengan motif Lemang—berupa penggambaran beras ketan, pohon bambu, dan ikan dengan dominasi warna biru—kini mencoba menghadirkan motif batik khas Tebing Tinggi.

Beragam survei dilakukan untuk merepresentasikan wajah Tebing Tinggi, mulai dari pencarian motif ukiran rumah baghi yang masih berdiri di Desa Lubuk Gelanggang, hingga mempertimbangkan ikon seperti stasiun kereta api, terowongan atau jembatan kereta api, serta Sungai Musi dengan segala potensinya. Tak lupa pula penggambaran pohon sawit yang mendominasi lahan pertanian di ibu kota Empat Lawang.

Akhirnya, pilihan motif jatuh pada hal-hal yang paling dikenal oleh masyarakat luar tentang Tebing Tinggi. Saat ini Tebing Tinggi identik dengan durian (lempok), madu sialang yang dipanen dari hutan, serta kopi yang menjadi komoditas unggulan petani.

Kehadiran desain kain batik ini bukan untuk menetapkan motif tersebut sebagai batik khas Tebing Tinggi, melainkan sebagai langkah awal. Dengan demikian, ketika ada event yang mengharuskan penggunaan batik khas Empat Lawang, daerah ini tidak lagi kesulitan karena sudah memiliki solusi yang dapat ditampilkan.

Selama ini, beberapa event daerah maupun nasional masih menggunakan kain batik Paiker.

Lihat Juga:Serapungan Tradisi Khas Empat Lawang

“Semoga kedepan, batik khas Empat Lawang akan tumbuh pesat, sebagai identitas pakaian maupun souvenir bagi pendatang,” ujar Noperman Subhi, mengakhiri diskusi tentang kain batik Empat Lawang.

Motif batik Tebing Tinggi menyerupai irisan buah durian, biji kopi, dan madu lebah. Motif tersebut sangat relevan, karena durian dan kopi melambangkan hasil bumi yang makmur, sedangkan madu lebah menggambarkan kerja keras, manisnya hasil, serta kekompakan dalam komunitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *